Friday, March 6, 2026
Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut
  • Home
  • Tentang PPAL
    • Sejarah
    • Karakter dan Fitur PPAL
    • Visi & Misi
    • Pengurus Organisasi
      • PPAL Wilayah
      • PPAL Pusat
        • Struktur Organisasi
        • Pengurus Pusat
        • Dewan Pertimbangan
        • Dewan Pakar
    • PIPAL
    • PP Kowal
    • Ladzis
    • Redaksi Jalasena
    • Yayasan
    • Kontak
  • Agenda
  • Berita
  • Opini
  • Galeri
  • Majalah
No Result
View All Result
Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut
  • Home
  • Tentang PPAL
    • Sejarah
    • Karakter dan Fitur PPAL
    • Visi & Misi
    • Pengurus Organisasi
      • PPAL Wilayah
      • PPAL Pusat
        • Struktur Organisasi
        • Pengurus Pusat
        • Dewan Pertimbangan
        • Dewan Pakar
    • PIPAL
    • PP Kowal
    • Ladzis
    • Redaksi Jalasena
    • Yayasan
    • Kontak
  • Agenda
  • Berita
  • Opini
  • Galeri
  • Majalah
No Result
View All Result
Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut
No Result
View All Result
Home Opini

Visi Maritim Pilpres 2019

by Achmad Bashori
March 9, 2019
in Opini
0
Visi Maritim Pilpres 2019

Visi Maritim Pilpres 2019

Share on FacebookShare on Twitter

Kemajuan pendidikan poli­tik saat ini dapat dika­takan cukup baik. Secara epistimologis, setidaknya dari hasil survei Litbang Kompas (08/01/2019) da­pat menjadi salah satu in­dikator yang menguatkan premis bahwa kesadaran demokrasi makin meningkat. Dengan mengambil responden dari 17 kota besar di Indo­nesia, terhadap pertanyaan, apa yang paling penting disampaikan capres-cawapres, sebesar 51,30% responden menjawab: visi dan misi. Sedangkan pada pertanyaan, penting atau tidak pentingkah mengetahui visi, misi, dan program kerja capres-cawapres, jawabannya: sangat penting 26,35% dan penting 64,67% (total 91%).

Aspirasi yang tercermin dari hasil survei di atas mudah-mudahan menjadi koreksi serius bagi para kontestan untuk memperbaiki forward campaign strategy mereka, yang tersisa tinggal dua bulan ke depan, dengan mengedepankan vi­si-misi yang lebih kredibel dan berwa­wasan Nusantara. Akan menjadi nihil kemanfaatannya ketika para kontestan hanya saling menyerang dan menegasi­kan kompetitornya, apalagi melupakan argumentasi visi-misi-program mereka. Kondisi semacam ini justru mengotori pembelajaran politik masyarakat yang selama ini sudah terbangun menuju tingkat kesadaran yang lebih baik.

Suatu visi atau wawasan adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan bangsa (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia). Hal inilah yang se­harusnya menjadi titik krusial menerje­mahkan kehendak rakyat dalam rangka mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat di negara kepulauan yang ber­nama Indonesia. Wawasan Nusantara mengamanatkan hal yang paling hakiki tentang peradaban Nusantara. Bahwa kita hidup dalam lingkungan berkultur bahari dan alam kelautan, maka cara pandang kita adalah mawas ke dalam (inward looking) dengan memandang laut sebagai masa depan bangsa dan mawas keluar (outward looking) yang memandang kemaritiman sebagai per­adaban dunia, karena kepentingan negara-negara di dunia akan sangat di­tentukan oleh penguasaan, pengelolaan, dan pemanfaatan laut untuk kemak­muran yang berkelanjutan bangsanya maupun umat manusia (Kusumastanto, 2018).

Analoginya, menjadi keniscayaan ketika para kontestan capres-cawapres menawarkan visi, misi, dan program pembangunan berlandaskan jati-diri bangsanya. Visi harus dielaborasi men­jadi misi. Dengan misi mewujudkan In­donesia sebagai negara maritim berarti telah mengartikulasikan arah pembangunan yang sesuai dengan cita-cita na­sional, yakni mewujudkan masyarakat adil makmur berasaskan negara kepu­lauan. Persoalannya adalah, apakah kepemimpinan bangsa telah menerjemahkan wawasan tersebut sebagai aspirasi rakyat yang harus diupayakan sebagai inti persoalan bangsa dan diim­plementasikan menjadi program pem­bangunan berkelanjutan. Kenyataan­nya, narasi visi-misi-program yang ditawarkan para kontestan Pilpres 2019, minim isu maritim. Hal ini menjadi “pekerjaan rumah” sekaligus tantangan besar yang harus kita hadapi. Arti­nya, membangun negara maritim hen­daknya dijalankan dalam proses jangka panjang secara kerkesinambungan oleh siapapun pemimpinnya. Realisasinya dimulai dari komitmen politik dalam kontestasi demokrasi lima tahunan se­bagai program-program pembangunan berorientasi negara kepulauan.

Telah banyak dibahas betapa be­sarnya nilai strategis Indonesia baik secara politik maupun ekonomi. Letak Indonesia di posisi silang dunia menja­di pusat pendulum perdagangan dunia lewat laut (merchant maritime high­way), ini adalah potensi keekonomian yang sangat menjanjikan. Sebesar 70% perdagangan dunia diangkut lewat laut dimana 40%-nya melewati Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) termasuk Selat Malaka. Bersama dengan peman­faatan kekayaan sumber daya kelautan (ocean resources) lainnya yang bisa dieksplorasi secara optimal, maka total nilai ekonominya mencapai pendapatan 1,5 triliun dolar AS/tahun. Sungguh luar biasa. Hal ini tentu bisa menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi na­sional secara signifikan. Bahkan his­toriografi terbaru tentang kawasan Nusantara memperlihatkan konsensus bahwa masa pra-modern pertumbuhan ekonomi yang cepat merupakan gam­baran tetap dari kawasan ini. Dengan demikian, pandangan yang biasanya melukiskan perekonomian pra-modern dari kawasan ini sebagai sesuatu yang secara intrinsik bersifat statis tidak lagi valid (Houben, 2002).

Penjabaran Program Kerja

Mengenai kenapa visi maritim tidak tampak secara nyata dalam visi-misi para kontestan, ada yang berargumen­tasi bahwa hal itu sudah terkandung di dalamnya. Padahal mengimplisitkan inti persoalan bangsa menjadi sesuatu yang “terkandung” bisa dimaknai sebagai logi­ka inversitas yang men-justifikasi nilai-nilai dari visi-misi itu sendiri. Dengan demikian justru kita harus meletakkan inti (core) tersebut bukan secara implisit, tetapi sebagai milestone penjabaran pro­gram kerja secara komprehensif dan ter­ukur. Ada tiga basis pertimbangan yang melandasi program kerja.

Pertama, terkait dengan kultur pembangunan. Selama ini tumbuh kerancuan identitas, sebab meski telah ter­bangun persepsi kewilayahan maritim, namun kultur yang kemudian terbangun adalah sebagai bangsa agraris. Paradigma demikian ini menyebabkan program pembangunan lebih bias ke daratan. Padahal untuk mewujudkan negara maritim, kita harus bisa menguasai, mengelola, dan memanfaat­kan laut secara optimal yang terintegrasi dengan pulau-pulau (daratan) dan udara. Dengan kultur maritim yang menjiwai bangsa, secara otomatis akan tumbuh kesadaran mitigasi bencana karena dua-pertiga wilayah Indone­sia berupa laut yang mengidentifikasi garis-garis rawan pergeseran bumi dan gunung berapi.

Kedua, pembangunan yang ter­integrasi, adil, dan merata untuk me­niadakan perbedaan (gap) pertumbuhan ekonomi antar-wilayah, terutama antara wilayah Indonesia Barat dengan Indonesia Timur. Sistem keekonomian sekarang masih berat ke wilayah Indo­nesia Barat (terutama Jawa). Fenomena kepentingan politik sesaat yang berkonotasi demi pemenangan Pemilu karena 60% pemilih ada di Jawa, harus disingkirkan. Padahal wilayah Indo­nesia Timur dengan potensi laut dan pesisirnya mempunyai nilai ekonomi sangat besar, terutama Laut Makassar, Laut Banda dan Laut Arafuru, pesisir Papua, Maluku, NTT, NTB, dan Su­lawesi. Untuk itu pembangunan dengan memberdayakan komunitas pesisir se­cara khusus menjadi keniscayaan. Juga membangun klaster-klaster komoditas dan industri secara masif tentu akan menyangga sistem konektivitas maritim secara signifikan. Ini adalah wujud me­realisasikan “laut sebagai pemersatu, bukan pemisah”.

Ketiga, pengakuan sebagai negara kepulauan (UNCLOS 1982) mengharuskan Indonesia untuk segera mem­benahi kemampuannya dalam menjaga keamanan dan stabilitas nasional be­serta sumber daya yang dimilikinya. Maraknya perebutan arena laut oleh negara-negara di dunia saat ini disebabkan adanya kepentingan ekonomi mereka melalui penguasaan sumber-sumber ekonomi lestari di laut dan minyak. Semuanya merupakan sumber ancaman yang bersifat multidimensional, termasuk pelanggaran kedaulatan, pencurian kekayaan alam, terorisme, imigran gelap, narkoba, dan perusakan lingkungan. Dalam perspektif nasional, kendala ancaman terorisme, potensi disintegrasi dan intoleransi akan tersele­saikan jika visi maritim terimplementa­sikan secara nyata dalam wadah NKRI.

Kepemimpinan Nasional

Suatu program adalah rancangan mengenai asas-asas serta dengan usaha-usaha dalam ketatanegaraan. Realisasinya tentu perlu pembuktian para pemimpin. Kini saatnya Indonesia harus merefleksikan kepemimpinan nasional yang kuat sebagai kekuatan imperatif yang mampu menjalankan politiknya dan menggerakkan pembangunan nasional secara efektif di nega­ra kepulauan. Hal ini dipahami sebagai langkah antisipatif menghadapi glo­balisasi. Seperti yang diingatkan oleh Friedheim and Michaelis (2001), agar semua negara mampu mengembangkan pola pemanfaatan laut yang berkelan­jutan. Untuk itu diperlukan kalkulasi biaya politik dan ekonomi, serta mema­hami secara konsisten prinsip pengelo­laan keamanan maritim dan sumber daya yang lestari.

Karenanya, Pemilu 2019 diharapkan melahirkan putra-putri terbaik bangsa yang mampu melakukan perubahan, berikut komitmen dan paradigma pem­bangunannya yang berorientasi jati diri bangsa. Pembangunan itu hendaknya dilaksanakan secara berkesinambungan oleh siapapun pemimpinnya, dalam suatu kebijakan dan strategi yang integratif. Dengan model demikian, maka perwujudan “tanah air” sebagai satu kesatuan dianggap telah sesuai dengan as­pirasi falsafah Pancasila. Semoga harapan ini menjadi kenyataan.**

Previous Post

Kepemimpinan Maritim

Next Post

Audiensi PIPAL ke PPAL

Achmad Bashori

Achmad Bashori

Related Posts

“Pageblug” Covid-19
Opini

“Pageblug” Covid-19

May 15, 2020
China tidak Mengklaim Laut Natuna, hanya “Overlap” di Perairan Yurisdiksi Nasional RI
Opini

China tidak Mengklaim Laut Natuna, hanya “Overlap” di Perairan Yurisdiksi Nasional RI

February 25, 2020
KOOPSUS TNI DAN KOGABWILHAN TNI
Opini

KOOPSUS TNI DAN KOGABWILHAN TNI

December 1, 2019
“Jari-jarimu Harimaumu”
Opini

“Jari-jarimu Harimaumu”

December 1, 2019
Konektivitas Maritim 2019-2024
Opini

Konektivitas Maritim 2019-2024

September 10, 2019
Teknologi untuk Masyarakat Pesisir
Opini

Teknologi untuk Masyarakat Pesisir

June 20, 2019
Next Post
Audiensi PIPAL ke PPAL

Audiensi PIPAL ke PPAL

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

  • Forum Silaturahmi, Ketua Umum PPAL Pusat Laksanakan Buka Puasa Bersama Kasal dan Mantan Kasal, Mantan Wakasal, Mantan Pangkormar, serta Purnawirawan TNI AL Wilayah Jakarta
  • Ketua Umum PPAL Pusat Kunjungan ke Kediaman Ibu Romly selaku Ketua Himpunan Warakawuri
  • PPAL Pusat Perkuat Literasi Hukum Lewat Sosialisasi KUHP-KUHAP Baru
  • PPAL Pusat Ikuti Sosialisasi KUHP dan KUHAP Baru Oleh Wamenkum RI
  • Ketua Umum PPAL dan Ketua Umum PIPAL Meriahkan HUT Paguyuban Purnawirawan Kowal di Surabaya

Komentar Terbaru

  • FX Karyoso on Lansia Purnawirawan TNI AL Antusias Ikuti Vaksinasi Covid-19 PPAL
  • Andriani mongi on Musyawarah Wilayah (Muswil) PPAL Wilayah V/Surabaya

Kategori

  • Agenda
  • Berita
  • Galeri
  • Info PPAL
  • Majalah
  • Opini
  • Video

Berita Terbaru

Forum Silaturahmi, Ketua Umum PPAL Pusat Laksanakan Buka Puasa Bersama Kasal dan Mantan Kasal, Mantan Wakasal, Mantan Pangkormar, serta Purnawirawan TNI AL Wilayah Jakarta

Forum Silaturahmi, Ketua Umum PPAL Pusat Laksanakan Buka Puasa Bersama Kasal dan Mantan Kasal, Mantan Wakasal, Mantan Pangkormar, serta Purnawirawan TNI AL Wilayah Jakarta

March 5, 2026
Ketua Umum PPAL Pusat Kunjungan ke Kediaman Ibu Romly selaku Ketua Himpunan Warakawuri

Ketua Umum PPAL Pusat Kunjungan ke Kediaman Ibu Romly selaku Ketua Himpunan Warakawuri

February 15, 2026

Kategori

  • Agenda
  • Berita
  • Galeri
  • Info PPAL
  • Majalah
  • Opini
  • Video

Tentang PPAL

  • Sejarah
  • Karakter dan Fitur PPAL
  • Visi & Misi
  • Pengurus Organisasi
  • Yayasan
Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut

Jl. Tabah Raya No. 1 Komplek TNI AL Kelapa Gading Barat Jakarta Utara 14240, Telp. (021) 45847189
Fax. (021) 54847189
email : ppalpusat@yahoo.com; jalasena.magazine@gmail.com;
Website: www.ppal.or.id

© 2019-2022 Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut.

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang PPAL
    • Sejarah
    • Karakter dan Fitur PPAL
    • Visi & Misi
    • Pengurus Organisasi
      • PPAL Wilayah
      • PPAL Pusat
    • PIPAL
    • PP Kowal
    • Ladzis
    • Redaksi Jalasena
    • Yayasan
    • Kontak
  • Agenda
  • Berita
  • Opini
  • Galeri
  • Majalah

© 2019-2022 Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut.